Linkbucks

Friday, December 25, 2009

buku lsim 2008

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Subhana Wa Ta'ala atas terwujudnya Buku Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa ini.
Pembuatan ini merupakan salah satu program kerja Lembaga Studi Ilmiah Mahasiswa (LSIM) dalam rangka meningkatkan pemahaman mahasiswa FKUB terhadap pembuatan karya tulis ilmiah yang benar dan sistematis. Harapannya hal ini merupakan awal untuk membentuk suatu pola pikir ilmiah di kalangan mahasiswa FKUB.
Selama bertahun-tahun, FKUB selalu berhasil menjadi juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah, baik di tingkat Lokal, maupun Nasional. Semoga buku ini bisa menjadi acuan untuk lebih memperbaiki kualitas penulisan karya tulis, sehingga tradisi "Juara" bisa dipertahankan.
Terima kasih kami ucapkan kepada dr. M. Hanafi, M.Kes, selaku Pembantu Dekan III atas bantuan morilnya, dr. Retty Retnawati, MSc, selaku pembimbing sekaligus penulis buku panduan ini, tanpa bantuan beliau niscaya buku ini tidak akan terwujud, seluruh tim kerja pembuatan Buku Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa dan semua pihak yang telah membantu.
Kami sadar bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, karenanya kami menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan buku ini. Akhir kata, semoga buku ini dapat bermanfaat.
Viva FKUB
MEMBUAT TULISAN ILMIAH
(SCIENTIFIC WRITING)
Dr. Retty Ratnawati, MSc
Fakultas Kedokteran/
POKJA
Pengembangan Penelitian dan Penulisan Ilmiah Mahasiswa (P3IM)
Universitas Brawijaya

Agustus 2008

PENDAHULUAN
Perlukah seorang dokter atau seorang perawat atau seorang ahli gizi menjadi peneliti? Kalau ada pendapat yang menyatakan bahwa cuman mau jadi dokter atau perawat atau ahli gizi saja kok kan tidak mau jadi ilmuwan, jadi ya tidak perlu melakukan penelitian. Maka pernyataan ini adalah keliru, karena ketiga profesi tadi merupakan ilmuwan, hanya saja kalau tidak suka meneliti (di dalam laboraturium), sebetulnya kita juga akan melakukan penelitian sehari-hari ketika berhubungan dengan pekerjaan masing-masing. Kebiasaaan yang demikian ini sebetulnya kita dapatkan dari pola berpikir ilmiah sebagai pedoman pola berpikir ilmuwan. Memang ada sedikit pergeseran tujuan pendidikan dokter di abad 20 dibandingkan dengan abad 21 ini. Kalau abad 19-20 pendidikan dokter lebih mengarah hanya pada bentuk pelayanan masyarakat yang utama, maka kalau abad 21 harus disikapi dengan "menyelamatkan yang ada di bumi nusantara" ini, dengan mengkaji hal-hal yang bersifat indegenous (lokal, setempat) untuk bisa berbicara dalam konteks global. Kata menyelamatkan sebetulnya mengacu kepada kenyataan bahwa sumber daya alam dan juga sosio-budaya kita sudah banyak yang dicuri dan dipatenkan oleh bangsa asing. Misalnya: daun ungu spesies (daerah) Timor Barat dipatenkan sebagai anti angiogenesis untuk kanker oleh Jepang, generasi ke 3 dan 4 dari tempe jugaa dipatenkan oleh Jepang, motif batik truntum telah dipatenkan oleh Jerman. Lalu apa yang akan tersisa? Kesadaran untuk menjaga semua indegenous sains, teknologi dan sosio-budaya adalah merupakan kewajiban bangsa Indonesia, bukan kewajiban siapa pun. Oleh karenanya metode sains internasional, maka sudah selayaknya bila kita mengembangkan semua hal yang ada pada bangsa ini.
Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri utama kegiatan masyarakat ilmiah. Penulisan ini didasarkan atas pemahaman abstraksi ilmiah yang tidak lepas dari hakekat dasar yang merupakan suatu prinsip pembentukan sikap berpikir ilmiah, yang dipacu oleh konstruk logis atas dasar mentransformasikan 'conceptual world' dan 'empirical world' (Wallace 1994). Yang dimaksud dengan karya ilmiah adalah karya (tulis atau bentuk lain) yang telah diakui dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni yang ditulis atau dikerjakan sesuai dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati atau ditetapkan. Penulisan karya ilmiah merupakan cara untuk mengkomunikasikan informasi baru tentang gagasan, kajian, atau hasil penelitian dalam kehidupan masyarakat akademik.
Tulisan ilmiah bisa merupakan hasil penelitian lapangan dan hasil penelitian di laboraturium, dan bisa merupakan 'library paper' atau sering disebut 'makalah' (Widarso 1992: 56). Jadi syarat utama tulisan ilmiah adalah adanya referensi (acuan). Referensi didapat dari perpustakaan yang ada di suatu tempat atau pun perpustakaan elektronik (internet, CDROM).
Menulis karya ilmiah berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia merupakan persoalan yang menuntut si penulis tidak hanya sekedar pandai dan kemampuan dalam hal speaking saja atau reading atau grammar saja atau vocabulary saja, tetapi dibutuhkan mempunyai semua ketrampilan berbahasa Inggris atau berbahasa Indonesia yang komprehensif. Yang paling penting adalah membuat draft tulisan ilmiah sesering mungkin. Karena dari situlah sebetulnya hasil tulisan akan baik. Suatu tulisan yang baik tidak mungkin hanya dibuat satu kali dan jadi, kalau yang seperti ini adalah menulis asal jadi, yang pada umumnya dikerjakan orang. Hal penting lain adalah jangan malu untuk meminta tolong orang yang ahli untuk mengoreksi hasil tulisan kita. Di negeri berbahasa Inggris, misalnya ternyata medical writting telah menjadi satu profesi (terdapat 2.110.000 alamat web side tentang medical writting). Begitu banyak hasil karya dalam jurnal artikel berbahasa Inggris tersebut dicek ulang atau diperbaiki sebelum dikirim pada editor suatu jurnal artikel berbahasa Inggris. Setidaknya kalau kita menulis maka seharusnya draft tulisan kita pernah dibaca orang lain (proof reader) untuk melihat apakah tulisan tersebut cukup komunikatif dan informatif.
Pada makalah ini akan didiskusikan pentingnya mempunyai alur berpikir ilmiah sebagai syarat utama menulis karya ilmiah. Selain itu juga dibahas kode etik penulisan karya ilmiah, sistematik penulisan karya ilmiah secara umum, serta beberapa jenis lomba karya ilmiah yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

ALUR BERPIKIR ILMIAH
Dalam mengembangkan pengetahuan (sains) terdapat beberapa cara, yaitu: metode kegigihan, metode kewibawaan, metode apriori (intuisi), dan metode sains.
Ciri khas metode sains dibanding ketiga metode yang lain, karena dalam menemukan dan mengembangkan pengetahuan di sepanjang proses penemuan pengetahuan itu, metode ini selalu menilai dan memperbaiki pengetahuan yang diperoleh itu secara terus menerus melalui berbagai macam batu-uji. Apabila terdapat 2 orang ilmuan yang mengembangkan pengetahuan secara tersendiri, tetapi menggunakan metode sains, akan mendapatkan pengetahuan yang sama. Sehingga metode sains terkenal sebagai suatu cara menemukan pengetahuan yang obyektif (Nasution 1988: 47).
Karena pengetahuan yang ditemukan itu harus obyektif, maka persyaratan tertentu untuk melakukannya harus dipenuhi. Jadi siapa pun yang melakukannya, ia akan mendapatkan hasil atau akibat yang sama. Itulah sebabnya mengapa inti sains adalah "perumuman" (generalisasi).
Cara untuk mendapatkan pengetahuan itu melalui langkah-langkah yang runtut sedemikian sehingga menghasilkan suatu pengetahuan tertentu. Pola yang berturut-turut dan sistematis itu yang dikenal dengan pola berpikir ilmiah (lihat skema 1).

Skema 1: Alur berpikir ilmiah


Tergantung dari macam ilmu pengetahuan yang mendasari, dengan mengikuti pola tertentu yang serupa yang telah dilakukan orang lain, maka akan didapatkan pengetahuan yang sama.
Selain itu dalam dunia kesehatan, membiasakan diri berfikir secara ilmiah (scientific way of thinking) juga analog dalam melakukan tahap-tahap mendiagnosa penyakit, melakukan terapi, dan mengevaluasi hasil terapi (tabel1).

Tabel 1: Analog Pola Berpikir Ilmiah Secara Umum dan Mengobati Penyakit
ALUR BERPIKIR ILMIAH SECARA UMUM TAHAP ALUR BERPIKIR ILMIAH DALAM MENDIAGNOSA DAN TERAPI PENYAKIT
Identifikasi masalah 1 Pasien datang dengan keluhan utama
Rumusan masalah 2 Keluhan utama difokuskan setelah melakukan elaborasi anamnese
Tujuan memecahkan masalah 3 Tujuan untuk mengobati penyakit setelah diagnosa ditegakkan
Hipotesis 4 Differential diagnosis (memperkirakan beberapa diagnosa)
Pengumpulan data 5 Pengumpulan data: pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium lengkap, dan menunjang
Hasil pengumpulan data dianalisis 6 Hasil pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pemeriksaan lain dianalisis
Pembuktian hipotesis 7 Penegakan diagnosis
Hipotesis bisa diterima atau ditolak 8 Manajemen terapi yang sesuai dengan diagnose pasti
Bila diterima, merupakan hal baru yang akan mempunyai masalah baru; Bila ditolak, identifikasi masalah baru 9 Evaluasi dan monitoring: sembuh atau belum sembuh. Kemungkinan mengubah pola terapi

KODE ETIK PENULISAN KARYA ILMIAH
Karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang disusun secara komprehensif berdasarkan data akurat (terpercaya) yang dianalisis secara runtut, tajam, dan diakhiri dengan kesimpulan yang relevan.
Kode etik penulisan karya ilmiah adalah seperangkat norma yang perlu diperhatikan dalam penulisan karya. Norma ini berkaitan dengan pengutipan dan perunjukan, perijinan terhadap bahan yang digunakan, dan ilmiah, penulis harus secara jujur menyebutkan rujukan terhadap pikiran atau bahan yang diambil dari sumber lain. Apabila bahan atau pikiran dari suatu sumber atau orang lain yang tidak disertai dengan rujukan, maka dapat disamakan dengan pencurian. Penulisan karya ilmiah seharusnya menghindarkan diri dari yang diakui sebagai tulisan atau hasil pemikiran sendiri (disebut plagiat).
Rujuk-merujuk dan kutip-mengutip merupakan kegiatan yang tak dapat dihindari dalam menulis karya ilmiah, karena perujukan dan pengutipan ini akan membantu perkembangan ilmu, tetapi harus disebutkan sumber rujukan tersebut.

MODEL TULISAN
Karya tulis dikenal ada 3 model tulisan (Widaso 1992: 46-73), yaitu:
1. Narasi (narrative)
Adalah tulisan atau karangan yang "bercerita". Kejadian atau peristiwa demi peristiwa dirangkai secara beruntun, menurut alur waktu (kronologis). Daya tarik narasi terletak pada cara penulis bercerita 'dramatis' dan lancar atau tidak.
2. Deskripsi (descriptive)
Adalah tulisan yang "menggambarkan", bisa saja berupa orang, benda, atau masyarakat, tempat atau suasana pada saat tertentu. Ketertarikan deskripsi terletak pada apakah penggambaran itu secara 'hidup' atau tidak.
3. Eksposisi (expository)
Adalah tulisan yang "menerangkan", "menjelaskan", atau "menjabarkan". Penjabaran atau penjelasan tentunya harus dilakukan secara logis atau dengan penalaran.
Dalam eksposisi mungkin ada "cerita" (narasi) atau "penggambarn" (deskripsi). Karena eksposisi bertumpu pada penalaran, keberhasilannya terletak pada kejernihan penalarannya. Bila penalarannya jernih (dalam arti jelas) dan lurus (dalam arti tidak berbelit-belit) secara urut, maka tulisan ini aakan lebih mudah dicerna dan dimengerti oleh pembaca.
Terdapat 3 macam tulisan yang termasuk eksposisi, yaitu tulisan ilmiah (scientific), tulisan informatif, tulisan argumentatif. Pembagian tulisan ini sebetulnya tidak kaku, dalam arti bisa saling menambahkan pada satu dan lainnya.

LANGKAH-LANGKAH MENULIS KARYA ILMIAH
Di dalam menulis karya ilmiah harus dipikirkan langkah-langkah yang berurutan sehingga menghasilkan tulisan yang berbobot (Jacobs 2001) yaitu:
1. memilih topik yaitu topik yang dipilih sebaiknya merupakan hal yang kita sukai sesuai dengan minat penulis, ada manfaatnya dari segi praktis atau pun teoritis, topik harus dikuasai, bahan yang diperlukan untuk penulisan ini harus memungkinkan untuk diperoleh. Setelah itu dilakukan pembatasan topik.
2. merumuskan kerangka (outline) yaitu kerangka yang mendasari tulisan yang merupakan pedoman yang akan mengarahkan atau membimbing kita dalam menulis. Bisa dengan paragraph outline atau topik outline.
3. mengembangkan paragraf (alinea) yaitu diawali dengan sebuah kalimat yang disebut sebagai 'kalimat topik' yang biasanya berisi pernyataan umum (general statement). Kemudian kalimat topik ini diberi keterangan lebih lanjut oleh kalimat kedua yang disebut subordinat. Kemudian kalimat ketiga juga mengomentari atau memberi keterangan lebih lanjut pada kalimat kedua. Jadi kalimat ketiga ini subordinat terhadap kalimat kedua. Kalimat keempat ini juga masih memberikan keterangan pada kalimat ketiga, karena kedudukannya yang sama sering disebut 'koordinat'. Namun yang lebih penting adalah jangan memberikan lebih dari satu topik atau satu ide ke dalam satu paragraf, sehingga tulisan menjadi tidak terfokus dan apa yang akan disampaikan tidak mencapai tujuan. Di dalam paragraf ini yang terpenting adalah "koherensi", yaitu kerekatan hubungan logis antara kalimat yang satu dengan yang lain. Keadaan ini bisa dicapai apabila kalimat topik dan subordinatnya saling mendukung.
Pemilihan topik di sini maksudnya bukan 'judul tulisan' tetapi adalah menggali dan menemukan dan mengenali masalah atau problem. Sering juga keadaan ini disebut dengan identifikasi masalah.
Masalah adalah ketidaksesuaian atau kesenjangan atau ambiguity (kontroversi) antara harapan dan kenyataan (antara das sollen dan das sein) atau antara 2 variabel atau lebih.
Masalah ilmiah yang baik apabila mempunyai nilai penelitian yang asli, original, aktual, hubungan 2 variabel atau lebih, dapat diukur, mempunyai fisibilitas (data, cara, waktu, dana), menarik bagi peniliti, sesuai dengan kualifikasi peneliti.
Identifikasi masalah ini bisa didapat dengan cara mencarinya pada sumber masalah, yaitu melalui:
a. bacaan yang merupakan: laporan hasil penelitian, majalah, jurnal, artikel
b. seminar/ diskusi/ pertemuan ilmiah: masalah penelitian di sini merupakan yang sudah jadi, berasal dari pakar, ahli, pemegang otoritas
c. pengamatan: daya khayal, intuisi, perlu kepekaan mampu mengamati lingkungan atau diawali dengan pengalaman pribadi.
Namun demikian ternyata tidak mudah menentukan masalah karena:
a. tidak semua masalah bisa diuji secara empiris
b. tidak ada pengetahuan/ sumber/ tempat mencari masalah
c. tidak terlalu banyak masalah pada saat yang bersamaan
d. masalah menarik tetapi data sukar diperoleh tidak tahu kemanfaatannya spesifik ketika memilih masalah
Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi obyek penelitian kita atau semua faktor yang berperanan dalam proses penelitian.
Setelah ditentukan masalahnya maka tujuan merupakan ekspresi untuk menindaklanjuti masalah untuk dikerjakan lebih konkrit konstruktif dan merupakan pernyataan dari masalah yang ditetapkan. Oleh karenanya kalau masalah merupakan kalimat yang biasanya merupakan pertanyaan dan konsep yang bersifat abstrak, maka tujuan penelitian merupakan kalimat pernyataan (declarative) dan konstruksi yang lebih konkrit (constructed).
Yang paling penting adalah ekspresi semuanya dalam bentuk tulisan "draft". Karena yang paling sukar dalam menulis adalah memulainya. Tulisan dapat direvisi berkali-kali sebelmun menjadi suatu tulisan yang mempunyai nilai 'berkualitas bagus'. Pada kenyataannya, lebih banyak orang membuat tulisan tidak sempat membuat draft atau sedikit waktu untuk menulis dengan berbagai alasan (Jacobs 1998) atau di Negara kita menggunakan model "SKS" (sistim kebut semalam) atau bahkan "sistim kebut in the las second".
Sifat dan isi tulisan karya ilmiah harus memenuhi syarat sebagai berikut (Wisarso 1992, Wallace 1994):
a) Objektif.
1) Tulisan tidak bersifat emosional atau tidak menonjolkan masalah subjektif.
2) Tulisan didukung oleh data dan atau informasi terpercaya.
3) Bersifat asli (bukan karya jiplakan) dan menjauhi duplikasi.
b) Logis dan sistematis.
1) Tiap langkah penulisan dirancang secara sistematis dan runtut.
2) Pada dasarnya karya tulis ilmiah memuat unsur-unsur: identifikasi masalah, analisis-sintesis, kesimpulan, dan sedapat mungkin memuat saran-saran.
c) Isi tulisan berdasarkan telaah pustaka dan hasil pengamatan/ interview, atau pun hasil penelitian.
d) Materi karya ilmiah merupakan isu mutakhir atau aktual.

SISTEMATIKA PENULISAN KARYA ILMIAH SECARA UMUM
Hal utama yang harus dilakukan oleh penulis karya tulis ilmiah adalah mengikuti sistematika penulisan karya ilmiah (Dirbinmawa 2005a, Widarso 1992, Maher 1994, Jerz 2001). Bila menulis pada jurnal ilmiah, pada umumnya mereka mempunyai aturan tertentu yang harus diikuti dalam model penulisannya. Yang berarti bisa sangat tergantung bidang ilmu masing-masing.
Secara umum (berbahasa Indonesia maupun Inggris) penulisan karya ilmiah mengikuti sistematika sebagai berikut:
1. Topik (Title)
Dalam penulisan berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris, topik ini tidak harus berupa kalimat yang lengkap. Judul tulisan ini seharusnya consice (lengkap, padat) tetapi informatif, berisi beberapa kata kunci, menyatakan satu problem yang diikuti dengan diskripsi sebabnya, lokasi atau pada organ apa analisis atau penyakit tersebut terjadi, menuliskan parameter dalam penelitian yang dikerjakan. Jumlah kata-kata sebagai topik tulisan tidak boleh lebih dari 15 kata. Misal:
? Pemanfaatan Wijen dalam Pola Konsumsi Masyarakat sebagai Penunjang Pengobatan Hipertensi
? Vidarabine Versus Acyclovir Therapy in Herpes Simplex
? Treatment of imported malaria in an ambulatory setting: prospective study Immunogenetics and the design of Plasmodium falciparum vaccines for use in malaria-endemic population
2. Abstrak (Abstract)
Pada umumnya panjang abstrak (abstract) berkisar antara 50-200 kata, tergantung dari macam jurnal artikel atau institusi penyelenggaranya. Sehingga secara umum abstrak merupakan suatu sajian karya tulis yang ringkas. Hal ini harus dibedakan dengan ringkasan (summary) yang biasanya lebih panjang, yaitu sampai dengan 500 kata. Meskipun tata letaknya ada pada paling depan, tetapi sebenarnya abstrak baru ditulis paling akhir ketika semua komponen sistematika penulisan sudah selesai dikerjakan.
Abstrak hasil penelitian pada umumnya terdiri dari 4 alinea yang berisi sebagai berikut:
a. Latar belakang permasalahan (backgrounds), tujuan studi/penelitian (purpose atau specific objectives)
Misal:
? To asses the impact of social marketing......
? We then discuss the results from recent human vaccine trials, as well as……
b. Metode penelitian (method)
Misal jumlah dan tipe pasien, studi eksperimental binatang, cara analisa dan observasi.
Misal pada:
Methods: design, setting, participants, main outcome measures……
c. Hasil (main results)
Yang dituliskan pada abstrak adalah hasil utama dan ringkasan dari data yang didapat, biasanya bila perlu dinyatakan data yang signifikan.
Misal pada:
Results: Ownership of nets increased rapidly (treated or not treated nets from 58% to 83%......)
d. Kesimpulan (conslusions)
Secara prinsip kesimpulan dituliskan secara jelas dan singkat. Bisa jadi suatu kesimpulan adalah hal yang definitive (pasti jelas) atau helged (tersamar, terselubung, belum pasti).
Misal:
? These results show that nets treated with insectiside have a substantial impact on morbidity when distributed in a public health setting……
? …… Metloquine is not standard treatment internationally, although alternative drugs such as atovaaquone with proguanil or artemether with lumefantrine may help to manage uncomplicated malaria in an ambulatory setting.

Contoh Ringkasan (summary) LKTM Juara III tingkat Nasional tahun 2005 (Hariogie Putradi, Heni May Yunanti, Herawari):
RINGKASAN
PEMANFAATAN WIJEN DALAM POLA KONSUMSI MASYARAKAT SEBAGAI PENUNJANG PENGOBATAN HIPERTENSI

Hipertensi merupakan penyakit yang prevalensinya tergolong tinggi di Indonesia (4,8-18,8%). Selain itu, pengobatan terhadap hipertensi dirasakan mahal oleh masyarakat karena harus dilakukan seumur hidup sementara 90% obat hipertensi di Indonesia merupakan obat impor. Hal tersebut mengakibatkan perbaikan kualitas hidup penderita hipertensi masih kurang memuaskan, bahkan kecenderungan untuk memburuk relatif tinggi. Oleh karena itu, diperlukan suatu penunjang pengobatan hipertensi yang cukup murah dan mudah didapat. Wijen merupakan salah satu alternatif penunjang pengobatan hipertensi yang memenuhi syarat tersebut namun belum disosialisasikan secara luas kepada masyarakat. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui kandungan utama dalam wijen, menjelaskan mekanisme kerjanya, merancang cara pengkonsumsian wijen agar dapat digunakan sebagai penunjang pengobatan hipertensi, serta sosialisasi penggunaannya.
Ruang lingkup permasalahan terletak pada keterkaitan antara wijen (dengan kandungan aktif di dalamnya) dengan pengobatan hipertensi esensial. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah analisis deskriptif dan deduktif, sedangkan pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan studi silang antara data-data yang terkumpul dengan teori dan konsep yang relevan.
Berdasarkan studi ini diketahui bahwa zat dalam wijen yang dapat menunjang pengobatan hipertensi adalah sesamin dengan kadar 0,5% pada biji wijen atau 300 ppm pada minyak wijen. Efek penurunan tekanan darah yang dimiliki oleh sesamin diduga terjadi melalui mekanisme antioksidan yang akan melindungi sel endotel pembuluh darah sehingga mempertahankan tonus pembuluh darah normal. Sedangkan cara pengonsumsian yang dirancang untuk menunjang pengobatan hipertensi adalah dalam bentuk biji wijen sebanyak 2,5 sendok makan per hari yang dapat ditambahkan langsung pada makanan sehari-hari. Manfaat dan cara penggunaan wijen sebagai penunjang pengobatan hipertensi tersebut dapat diinformasikan melalui media cetak, media elektronika, maupun penyuluhan langsung kepada masyarakat sehingga dapat diterapkan.
Kata-kata Kunci: Wijen, Hipertensi, Sesamin, Disfungsi Endotel
3. Pendahuluan (Introduction)
Secara umum bab pendahuluan mempresentasikan tentang lingkup dan tujuan laporan studi. Bisa juga berisi tentang review literature yang berhubungan dengan studi.
Pada bab ini harus berisi tentang:
? Latar belakang tentang alasan menulis masalah (background), perumusan masalah (problem statement), penjelasan tentang makna (advantages) penting dan menariknya untuk menelaah masalah tersebut. Misal pada:
Several studies have shown that malarial parasitemia is positively correlated with anemia and that parasitemia is the primary cause of anemia in very young children in Africa. As a result, because malarial infection is the norm in high transmission areas, anemia is common in young children……
? Review tentang riset yang sudah pernah dilakukan. Misal pada:
Large scale of implementation of programmes to supply treated nets is under way in several African countries……
? Ekspresi pelaporan (reporting expressions). Misal pada:
A summary of randomized controlled trial showed an average protective effect of about 50% on mild malaria episodes in areas…….
? Terdapat kesenjangan keilmuan (knowledge gap). Misal pada:
It is not known whether the impact of treated nets in the context of well controlled randomized controlled trials can be replicated.
? Tujuan yang ingin dicapai (statement purpose). Misal pada:
We report the first assestment of the impact of treated bed nets when suppliedd in the……
Jadi setelah membaca suatu pendahuluan, penulis harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut:
o Apakah konteks permasalahannya? Pada situasi atau lingkungan yang bagaimana masalah ini dapat diamati? (background)
o Mengapa riset ini penting? Siapa yang akan mendapatkan manfaatnya? Mengapa kita harus mengetahui hal ini? Mengapa pada situasi ini metode, model atau peralatan perlu ditingkatkan atau diperbaiki? (rationale)
o Bagaimana bila kita tidak tahu masalah ini? Apakah riset kita akan mengisi kesenjangan yang ada pada pengetahuan ini? (problem statement)
o Langkah yang bagaimana yang akan dilakukan oleh peneliti untuk mencoba mengisi kesenjangan pengetahuan atau memperbaiki situasi yang telah terjadi? (objectives/ aims)
o Apakah studi ini akan terbatas pada area geografi tertentu atau hanya aspek tertentu dari suatu situasi? (scope)
o Apakah ada faktor, syarat, atau keadaan yang dapat menghambat peneliti untuk mencapai tujuan studi? (limitations)
o Berpangkal pada metode, model, formulasi, atau pendekatan yang akan dilakukan, apakah peneliti harus mengambil beberapa syarat atau keadaan? Adakah kondisi dasar atau situasi yang harus diikuti/ dituruti? (assumption)
Skema membuat pendahuluan:
Buatlah secara berurutan:
a. Mengapa studi ini penting, atau mulailah dari hal yang umum ke spesifik, atau buatlah ringkasan (review) dari riset terhdahulu.
b. Definisikan satu masalah penelitian dengan: tunjukkan adanya kesenjangan pada 2 variabel atau lebih, atau buatlah pertanyaan, atau lanjutkan arahan/ riset yang telah pernah didapat sebelumnya atau ketidaksetujuan dengan pendekatan yang telah ada.
c. Tujuan untuk mencari solusi dengan: tuliskan tujuan riset yang sekarang, hasil dan indikasikan struktur riset.
4. Telaah Pustaka (Literature review)
Sumber pustaka yang dapat digunakan sebagai telaah pustaka antara lain: jurnal artikel, buku teks, prosiding konferens, laporan pemerintah dan lembaga yang lain, thesis dan disertasi, jurnal elektronik, CD-ROM, dan majalah. Namun yang paling baik adalah sumber pustaka dari jurnal artikel, prosiding konferens, tesis, dan disertasi, CD-ROM yang akademik.
Buku teks cenderung kurang aktual dan kurang baru dibandingkan jurnal artikel, karena memuat kemajuan ilmu pengetahuan dalam 2-5 tahun terakhir dari jurnal artikel yang telah diterbitkan, sehingga kurang baik sebagai referensi utama suatu penelitian. Tetapi buku teks sangat baik untuk titik awal pendahuluan mencari permasalahan dalam suatu tulisan.
Prosiding konferens atau seminar bisa juga dilihat permasalahan dan penyelesaian masalahnya yang masih kontroversial, sebagai bahan bandingan penulisan literatur review. Pada umumnya permasalahan yang ada di sini merupakan hal yang sudah jadi untuk ditindaklanjuti.
Sumber bacaan dari internet harus hati-hati memilihnya karena kita harus mencari yang termasuk golongan jurnal artikel, bukan yang bersifat populer untuk awam, bukan sekedar pamflet atau propaganda. Tidak semua terbitan pada internet merupakan hal yang bisa dirujuk bagi tulisan ilmiah, terutama bila akan menjelaskan suatu mekanisme yang sangat spesifik. Rujukan ideal yang diterima sebagai pustaka pada karya ilmiah ini hanyalah dari jenis artikel dan jurnal artikel. Jurnal artikel adalah suatu publikasi ilmiah hasil riset yang diterbitkan oleh majalah ilmiah secara regular/ periodik, yang diakui secara nasional dan atau internasional pada suatu bidang ilmu tertentu.
Alamat terbesar untuk bidang science and medicine dari perpustakaan maya (virtual library) ini adalah http://www.pubmed.com, namun pada alamat ini banyak teks lengkap yang harus dibayar sendiri, biasanya yang bisa diakses bebas/ cuma-cuma hanyalah abstrak saja. Pubmed.com merupakan perpustakaan elektronik yang bersumber pada National Library di Washington DC, yang merupakan perpustakaan terbesar di dunia, yang mempunyai sejumlah lebih dari 28.000 jurnal artikel yang terbit di dunia. Sebelum ada perpustakaan elektronik atau virtual library, biasanya dalam dunia kedokteran ditulis dalam Index Medicus, yang kemudian dikenal dalam terbitan spesifik dalam ilmu kedokteran dengan alamat internet http://www.medline.com. Pada medline.com ini lebih banyak ditawarkan jenis artikel yang harus dibayar sendiri ketika mencari teks lengkapnya, sedangkan abstrak bisa didapat gratis.
Alamat lain yang menyediakan artikel jurnal lengkap yang bebas membayar atau cuma-cuma, antara lain:
1. Http://www.highwire.stanford.edu, di sini dibutuhkan keahlian bahwa kita sudah tahu macam atau nama jurnal artikel yang akan dicari. Namun Highwire mempunyai cara kataloging yang tidak sama seperti pada National Library (http://www.pubmed.com), karena memang disediakan untuk kepentingan Universitas Stanford, sehingga sering kata kunci yang sudah digabungkan menjadi tidak cocok dengan yang dimaksudkan. Keuntungannya pada situs ini adalah tersedia banyak jurnal artikel yang dapat diakses gratis, meski mungkin terbelakang lebih dari satu tahun. Misalnya kalau diakses tahun 2005 bisa jadi yang didapat gratis pada tahun 2003 atau 2005, namun kalau sedang beruntung bisa juga didapat yang grati pada tahun terakhir.
2. http://www.jci.org, melalui alamat ini kita juga bisa masuk ke situs highwire.stanford.edu dengan memilih alternatif pilihan yang telah disediakan. Keuntungan memasuki http://www.highwire.stanford.edu melalui alamat ini adalah akan lebih banyak jumlah jurnal artikel dengan teks yang lengkap yang ditawarkan free access.
3. http://www.diabetes.org
4. http://www.endojournal.org
5. http://www.mithochondrion.org
Selain itu pada beberapa UPF/ laboratorium di Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang juga menyediakan layanan spesifik dan mungkin bebas membayar pada saat mengakses teks lengkap.
Bentuk lain jurnal artikel kedokteran dan sains yang sudah dipunyai oleh perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya adalah CD-ROM Proquest, yang menampilkan artikel lengkap untuk periode tahun tertentu (sampai dengan tahun 2005), yang berisi lebih dari 125 jurnal artikel internasional. Sedang untuk sains dan teknologi juga ada, selain itu juga terdapat bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan studi gender/ wanita.
Majalah (non ilmiah) dan surat kabar harus hati-hati ketika menggunakannya sebagai rujukan, karena pada umumnya penulisan ini disajikan untuk konsumsi masyarakat umum sehingga harus diperhatikan untuk sumber ilmiah. Sebagai sumber atas rujukan ilmiah bisa digunakan hanya untuk latar belakang masalah, namun tidak layak sebagai sumber pustaka untuk menjelaskan mekanisme suatu peristiwa yang berhubungan dengan ilmu kedokteran.
Pada bab tinjauan pustaka ini harus berisi tentang:
? uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikaji
? uraian mengenai pendapat yang berkaitan dengan masalah yang dikaji
? uraian mengenai pemecahan masalah yang pernah dilakukan.
Membuat telaah pustaka yang baik dengan cara:
o Ingat tujuan kita. Harus diperlihatkan mengapa studi ini perlu dilakukan, bagaimana kita memilih metode, atau memilih teori, bagaimana studi kita dapat menambah khasanah pengetahuan bagi studi yang telah dilakukan.
o Bacalah dengan satu tujuan tertentu, perlu melakukan ringkasan yang telah dibaca dan juga untuk menentukan ide atau informasi yang penting untuk studi kita. Pilihlah dan perhatikan kemiripan dan perbedaan yang berkorelasi dengan studi kita.
o Tulislah tujuan untuk mengevaluasi dan memperlihatkan hubungan antara studi-studi yang telah dilakukan.
5. Metode (method)
Secara umum bab metode ini mempunyai tujuan yang harus menjawab pertanyaan sebagai berikut:
? Bagaimana cara data-data penelitian didapat
? Bagaimana cara menganalisisnya
Metode penulisan umumnya berisi tentang metode yang benar dengan menguraikan secara cermat cara atau prosedur pengumpulan data atau informasi, pengolahan data dan atau informasi, analisis-sintesis, mengambil kesimpulan, serta merumuskan saran atau rekomendasi.
Pada laporan hasil riset atau penelitian, bab ini dikenal dengan: metode penelitian (research method/ materials and methods), yang berisikan bagaimana langkah-langkah atau cara melakukan penelitian dalam hal pengambilan data, bahan apa saja yang digunakan dalam melakukan penelitian tersebut.
Misal dalam metode berisi tentang:
o Bahan dan metode (materials and methods) untuk eksperimental binatang misalnya, termasuk dalam hal alat, bahan kimia, dan pabrik yang memproduksinya.
o Patients and methods (untuk penelitian dengan orang)
o Sampel (sample), dalam hal ini dituliskan besar sample (sample size) untuk pasien atau specimen
o Waktu penelitian (time/ period of investigation)
o Tempat pelaksanaan studi (location)
o Prosedur pelaksanaan (procedures) tentang cara koleksi data
o Analisis data
Permasalahan atau kesalahan yang sering timbul pada penulisan bab ini adalah:
? Rinci tapi tidak relevan
? Memberi keterangan yang tidak perlu sehubungan dengan prosedur dasar standard.
? Problem blindess
6. Hasil penelitian (Results)
Pada bab ini dipaparkan semua hasil penelitian yang didapat secara logis atau kronologis. Penampilan hasil dapat diberikan dalam bentuk grafik dan tabel atau diagram.
Selain itu dalam bab hasil ini juga dituliskan tentang:
? Analisis statistik dari sampel
Misal pada:
Perhatikan pada tabel 1-4
We identified 985 eligible children: ..........
? Analisis data secara statistik dituliskan.
Misal pada:
Ownership and use the nets.
Predictors of net ownership included family income: families with high income ……. (table 25) …..
7. Pembahasan (Discussion)
? Dalam bab ini dipaparkan semua kesimpulan hasil tentang:
o Apa yang baru atau temuan asli (orisinil), apakah hasil yang didapat setuju atau tidak setuju dibandingkan dengan peneliti terdahulu, apakah implikasinya pada keadaan yang kecil korelasinya misalnya.
o Pada bab ini penting untuk menuliskan tentang adanya hubungan tentang tujuan dari studi.
o Bila perlu harus memberikan hipotesa yang baru.
? Bab pembahasan ini bisa berupa:
o Konfirmasi (confirmation). Hasil yang didapat mungkin merupakan hasil yang diduga atau yang tak terduga oleh peneliti.
o Pernyataan ulang dari sebab untuk suatu riset (restatement of reason for research). Dalam hal ini mengapa studi ini dikerjakan? Adakah permasalahan yang kurang pada studi sebelumnya sehingga memerlukan studi seperti ini? Misal pada:
…… Our finding of high impact in children under 2 years is in line with other studies that included very young children…
o Pembahasan menerangkan betapa pentingnya studi ini dan kontribusinya pada area studi. (the importance of the study)
o Implikasinya untuk penelitian berikutnya (implications for future research). Pembahasan di sini merupakan saran untuk penelitian selanjutnya. Misal pada:
Immunogenetic studies converge with laboratory studies insuggesting that a multistage malaria vaccine, capable of inducing both IFNg producing cells,.....
o Penyamaran (hedging). Peneliti dalam hal ini mungkin tidak ingin menyatakan hasilnya secara definitive atau konkrit. Peneliti mungkin hanya ingin membuat suatu interpretasi saran. Hasil yang didapatkan tidak seperti yang umumnya didapatkan oleh peneliti lain. Biasanya dituliskan dalam bentuk keraguan atau saran penerapan suatu teori baru atau hanya mendukung teori lain. Misal ekspresi penulisan menggunakan:
? It is possible that...
? It is likely that...
? It might be...
o Hasil penelitian dengan analisis permasalahan yang didasarkan pada data dan atau informasi serta telaah pustaka untuk mendapatkan suatu pemecahan masalah.
8. Kesimpulan (Conclusion) & Saran (Suggestion)
Kesimpulan
Bab ini harus berisi pemaparan ide penulisan yang harus konsisten dengan analisis permasalahan dan menjawab permasalahan, yang berarti juga menjawab tujuan penulisan karya ilmiah.
Saran
Harus berkaitan dengan kesimpulan.
Dalam bab ini kadang diletakkan bergabung antara Kesimpulan dan Saran.
9. Ucapan terima kasih (Acknowledgement)
Dalam penulisan makalah hasil penelitian setelah bab kesimpulan, biasanya dituliskan ucapan terima kasih (acknowledgement) kepada pihak yang telah membantu dalam proses sehingga berhasil mempublikasikan tulisan tersebut.
10. Daftar pustaka (References/ bibliography/ literature cited)
Sistematika penulisan tersebut di atas merupakan pola penulisan yang umum dikenal di masyarakat ilmiah. Namun penulisan urutan pola tersebut di atas bisa sangat spesifik tergantung pada institusi atau pun penerbit suatu buku atau artikel jurnal tertentu, jadi akan ditentukan urutan atau pola penulisan karya ilmiah secara khusus menurut penerbit tersebut.
Pada umumnya orang menuliskan bentuk referensi menurut urutan nama (abjad) yang disebut sistem Harvard atau menurut urutan nomor dalam daftar pustaka yang disebut sistem Vancouver.
Hindarkan untuk menuliskan ANONYMOUS dalam daftar pustaka. Sdapat mungkin dicari sumber referensi tersebut, bisa berupa nama institusi, nama kantor dari mana referensi tersebut didapatkan. Karena bila tidak dapat ditemukan identitas tersebut, maka referensi tersebut tidak layak sebagai referensi karya tulis ilmiah.
Cara menulis daftar pustaka/ rujukan/ referensi
Terdapat cara penulisan rujukan berdasarkan pada kaidah ilmiah yang dianut secara umum, yang ditulis secara spesifik seperti yang diuraikan berikut ini.
Cara merujuk dapat merupakan kutipan langsung atau kutipan tak langsung. Daftar referensi atau rujukan ini merupakan daftar yang berisi buku, makalah, artikel jurnal, atau bahan lainnya yang dikutip secara langsung atau tak langsung. Pada prinsipnya unsur yang ditulis dalam 'daftar rujukan' (referensi atau kepustakaan) secara Harvard adalah:
1. Nama penulis dengan urutan: nama akhir (surname), nama awal, dan nama tengah (inisial), tanpa gelar akademik.
2. Tahun penerbitan
3. Judul, termasuk sub judul
4. Selanjutnya penulisan untuk acuan/ referensi.
a. Buku teks
i) Cetakan keberapa (kalau lebih dari satu, bila tak ada tulisan cetakan keberapa berarti buku tersebut adalah cetakan pertama)
ii) kota tempat penerbitan
iii) nama penerbit
(penulisan halaman tertentu yang dirujuk seharusnya dituliskan pada bagian dalam makalah yang sesuai)
b. Artikel jurnal
i) nama artikel jurnal
ii) volume dan juga nomor edisi artikel jurnal
iii) halaman artikel jurnal
Berikut ini adalah beberapa contoh penulisan referensi menggunakan sistem Harvard:
1. Rujukan dari buku-teks:
Dalam daftar pustaka perujukan buku teks dapat ditulis tanpa menyebutkan halaman yang dirujuk, sebagai berikut:
Contran, R.S., Kumar, V., Collins, T. 1999. Robbins' Pathologic Basis of Disease (6th ed.). Philadelpia: W.B. Saunders Company
Namun di dalam penulisan karya ilmiah atau dalam teks makalah harus disebutkan pada halaman berapa pernyataan tersebut dirujuk, misal:
"………. Sel yang mengalami apoptosis dapat juga menunjukkan tanda-tanda seperti nekrosis, antara lain: tanda-tanda hidrolisis protein, fragmentasi DNA, ekspresi fosfatidylserine dan apoptotic body (Cotran, Kumar, & Collins, 1999: 20-21)………."
2. Rujukan dari buku yang berisi kumpulan artikel (tak ada editornya)
Born, G.V.R. and Schartz, C.J. (Eds). 1997. Vascular Endothelium: Physiology, Pathology, and Therapeutic Opportunities. Stuutgart: Schattauer.
3. Rujukan dari artikel dalam buku kumpulan artikel (ada editornya)
Schedlowski, M., Tewes, U., and Schmoll, H.J. 1994. The Effects of Psychological Intervention on Cortisol Levels and Leucocyte Numbers I The Peripheral Blood of Breast Cancer patients. Dalam C.E. Lewis, C. O'Sullivan & J. Barraclough (Eds.), The Psychoimmunology of Cancer: Mind and Body in the Fight for Survival? (hlm. 336-348) Oxford: Oxford University Press.
4. Rujukan dari artikel dalam jurnal
Sargowo, D., Ratnawati, R., Siswanto, Supriadi, P. 1995. Lipid Profile as Risk Factors in Coronary Heart Disease among sub-urban Population in Malang-Indonesia. ASEAN Heart Journal 3 (2): 88-95.
5. Rujukan dari makalah yang disajikan dalam seminar, penataran atau lokakarya
Soetmadji, D.W. 2000. Major Histocompatibility complex Region and Type I Diabets: A Clinican Point a View. Makalah disajikan pada Workshop on Molecular Diabetology, Malang 6 Juli.
6. Rujukan dari dokumentasi resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa penulis dan tanpa lembaga
Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: PT Armas Duta Jaya.
7. Rujukan dari lembaga yang ditulis atas nama lembaga tersebut
Direktorat Akademik & Kemahasiswaan. 2005. Pedoman Umum Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Mahasiswa. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
8. Rujukan berupa karya terjemahan
Greenwood, S. 1984. Menopause Secara Alami: Persiapan Menghadapi Paruhan Hidup Kedua. Terjemahan oleh Anton Adiwiyoto. 1991. Jakarta: Gunung Mulia.
9. Rujukan berupa skripsi, tesis, atau disertasi
Soehardjo, I.N. 1999. Penentuan Jenis Kelamin Melalui Analisis DNA dan Morfometri dengan Analisis Fourier pada Tengkorak. Disertasi tidak diterbitkan. Surabaya: Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.
10. Rujukan dari artikel dalam jurnal dari CD-ROM
Spyridopoulos, I., Sullivan, A.B., Kearny, M., Isner, J.M. and Losordo, D.W. 1997. Estrogen-Receptor-ediated Inhibition of Human Endothelial Cell Apoptosis: Estradiol as a Survival Factor. Circulation 95:1505-1514 (CD-ROM: Medical PROQUEST, 1999).
11. Rujukan dari internet, berupa artikel jurnal
*) Tschudi, M.R., Barton, M., Bersinger, N.A., Moreau, P., Consentino, F., Noll, G., Malinsky, T., and Luscher, T.F. 1996. Effect of Age on Kinetics of Nitric Oxide Release in Rat Aorta and Pulmonary Artery. J Clin Invest 98 (4): 899-905. (Online) (http://www.jci.org/search.dtl, diakses 10 Februari 2000).
**) Consentino, F., Noll, G., Malinski, T., and Luscher, T.F., Case, J., and Davison, C.A. 1999. Estrogen Alters Relative Contributions of Nitric Oxide and Cyclooxygenase Products to Endothelium-Dependent Vasodilation. J of Pharmacol and Exp Ther 291 (2): 524-530 (Online), (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/PubMed, diakses 8 Agustus 2000).
12. Rujukan dari internet berupa E-mail pribadi
Choo, S. (s.choo@sheffield.ac.uk.) 1 Oktober 2000. HUVEC Preparation. E-mail kepada Retty Ratnawati (rratnawati@telkom.net).
13. Rujukan dari artikel dalam majalah atau koran (penulis jelas)
Hermijanto, S.P. 13 Oktober 2000. Sampah dan Kesehatan. Kompas: pp13.
Astawan, M. Mei, 1997. Nutrisi yang Berkhasiat Meningkatkan Gairah Seksual. Sartika: 100-105.
14. Rujukan dari koran tanpa penulis
Kompas. 13 Oktober 2000. Turunkan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui Pelayanan Kebidanan: 10.
15. Rujukan dari konsultasi individu (personal communication)
Dalam dunia eksakta hal ini sangat jarang dilakukan, namun bisa terjadi bila terpaksa. Dalam jurnal Biomedic rujukan tipe ini tidak diperbolehkan tetapi kalau terpaksa harus ada bukti tertulis.
Rujukan kadang bisa juga berasal dari diskusi dengan seorang pakar di bidangnya pada suatu pertemuan ilmiah tertentu, untuk hal itu bisa dituliskan sebagai berikut:
Bartlett Jr., D. 1999. Mapping of specific region on the pons for cardiovascular regulation centre. Personal communication, In International Conference in Experimental Biology, Atlanta-USA.

BEBERAPA CONTOH JENIS LOMBA ILMIAH MAHASISWA
Pada tingkat nasional terdapat berbagai lomba ilmiah mahasiswa yang selalu dipertandingkan secara rutin setiap tahun, misal:
1. Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM)
2. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)
3. Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa (PPKM)
Ad 1) LKTM (Lomba Karya Tulis Mahasiswa)
Karya tulis mahasiswa merupakan tulisan berisi ide kreatif yang disusun secara komprehensif berdasarkan data akurat (terpercaya), dianalisis secara runtut, tajam, dan diakhiri dengan kesimpulan yang relevan. Karya tulis mahasiswa yang dimaksud (Dirbinmawa 2005a) bukan merupakan laporan hasil penelitian eksperimental (yaitu penelitian yang memberikan perlakuan pada obyek yang diteliti). Bidang ilmu yang dilombakan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah meliputi 3 bidang, yaitu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan bidang pendidikan. Bidang lomba dapat diikuti oleh setiap mahasiswa dan tidak dibatasi oleh bidang ilmu yang ditekuninya. Materi tulisan mengacu pada satu tema, yaitu 'sumber daya manusia Indonesia menuju peningkatan daya saing bangsa dalam pembangunan berkelanjutan'. Ada pun alternatif topik permasalahan yang dapat dipilih menurut bidangnya adalah
1. Bidang IPA
a. Pendayagunaan potensi biologi dan pertanian
b. Pendayagunaan teknologi sepadan
c. Pendayagunaan potensi mineral
d. Pendayagunaan potensi teknologi kelautan
e. Pendayagunaan potensi teknologi kesehatan bagi masyarakat
f. Pendayagunaan potensi teknologi informasi
2. Bidang IPS
a. Pengembangan kesadaran dan sistem hukum nasional
b. Pengembangan Tripartit Pemerintah, BUMN, dan swasta
c. Pengembangan menuju masyarakat madani
d. Pembinaan keluarga dalam menghadapi perubahan sosial budaya
e. Peranan komunikasi massa dalam perubahan sosial budaya
f. Pengembangan pariwisata dan dampak sosialnya
3. Bidang Pendidikan
a. Pengembangan kualitas sumber daya manusia
b. Pengembangan pendidikan guru/ dosen
c. Pengembangan pendidikan luar sekolah dan belajar berkelanjutan
d. Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
Sifat dan isi tulisan harus kreatif untuk mencari solusi suatu permasalahan yang berkembang di masyarakat yang merupakan hasil pemikiran secara divergen atau pemikiran terbuka. Tulisan bersifat emosional atau tidak menonjolkan permasalahan yang subyektif, bersifat asli (bukan jiplakan) dan menjauhi duplikasi. Isi tulisan berdasarkan telaah pustaka dan hasil pengamatan/ interview tetapi bukan hasil penelitian eksperimental. Materi tulisan merupakan isu mutakhir atau aktual.
Sistematika penulisan hendaknya dirancang sebagai berikut (untuk lengkapnya lihat pada Pedoman Umum Lomba Karya Tulis Mahasiswa 2005):
A. Bagian awal
Halaman judul, lembar pengesahan
B. Bagian inti
1. Pendahuluan (berisi latar belakang masalah yang merupakan alasan perumusan masalah dan penjelasan penting serta menariknya masalah yang ditelaah. Berisi uraian singkat gagasan kreatif yang ingin disampaikan, tujuan dan manfaat yang ingin dicapai melalui penulisan)
2. Telaah pustaka (uraian landasan teori dan konsep yang relevan, pendapat yang berkaitan dengan masalah yang dikaji, pemecahan masalah yang pernah dilakukan)
3. Metode penulisan (menguraikan secara cermat cara/ prosedur pengumpulan data/ informasi, pengolahan data/ informasi, analisis sintesis, mengambil kesimpulan, serta merumuskan saran atau rekomendasi)
4. Bagian isi/ pembahasan (berisi analisis permasalahan didasarkan pada data/ informasi serta telaah pustaka untuk menghasilkan alternative model pemecahan masalah atau gagasan kreatif, simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan, sedangkan saran yang disampaikan berupa kemungkinan atau prediksi transfer gagasan dan adopsi teknologi)
C. Bagian akhir
1. Daftar Pustaka (biasanya secara Harvard, bila buku teks maka penulisannya yaitu nama penulis, tahun, judul buku, tempat terbitan, nama penerbit. Jurnal artikel ditulis dengan cara nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume, dan nomor halaman. Bila didapat dari internet, tuliskan alamat website-nya)
2. Daftar riwayat hidup (biodata atau curriculum vitae)
3. Lampiran (jika diperlukan)
Jumlah halaman ditulis minimal 20 halaman dan maksimal 35 halaman.
Sistematika penulisan LKTM secara umum adalah:
1. Tata letak
a. Karya diketik 1,5 spasi pada kertas ukuran A4 (font 12, Times New Roman style)
b. Batas pengetikan:
i. Samping kiri 4 cm
ii. Samping kanan 3 cm
iii. Batas atas dan bawah masing-masing 3 cm
iv. Batas pengetikan 2 cm pada bagian bawah
c. Jarak pengetikan, bab, subbab, dan perinciannya:
i. jarak pengetikan antara bab dan subbab 3 spasi, subbab dan kalimat di bawahnya 2 spasi
ii. Judul bab diketik di tengah-tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digarisbawahi
iii. Judul subbab ditulis mulai dari kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf capital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan
iv. Judul anak subbab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indentasi 5 pukulan yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar, kecuali kata tugas yang, dari, dan
v. Jika masih ada subjudul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir iii di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya
2. Pengetikan kalimat
Alinia baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok ke dalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.
3. Penomoran halaman
a. Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/ daftar anggota kelompok, kata pengantar, dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii, dan seterusnya)
b. Bagian tubuh pokok sampai dengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi atas (1, 2, 3, dan seterusnya)
c. Nomor halaman pertama dari tiap bab tidak ditulis, tetapi tetap diperhitungkan
Selain LKTM yang dilombakan secara bertahap mulai dari seleksi di tingkat universitas kemudian dilanjutkan ke tingkat regional/ wilayah dan akhirnya terpilih untuk dilombakan ke tingkat nasional pada PIMNAS setiap tahunnya, maka dikenal juga beberapa jenis LKTM yang dipilih langsung di tingkat nasional, yaitu:
Ad.1.a). LKTM PENINGKATAN KEPEDULIAN SOSIAL MAHASISWA TINGKAT NASIONAL
Karya tulis LKTM dalam rangka peningkatan kepedulian sosial mahasiswa merupakan tulisan berisi gagasan kreatif yang disusun secara komprehensif tentang kepedulian sosial berdasarkan data akurat, dianalisis secara runtut, tajam dan diakhiri dengan kesimpulan yang relevan. Materi penulisan mengacu pada tema: "pembangunan berkelanjutan dalam pelestarian lingkungan hidup menurut perspektif mahasiswa".
Topik tulisan disesuaikan dengan tema, serta peserta dibebaskan untuk mencari dan atau memilih topik yang dapat dipilih sendiri berdasarkan disiplin ilmu yang ditekuni dan atau disiplin ilmu yang berbeda. manfaat tulisan terutama bagi pemerintah dan masyarakat.
Sistematika penulisan dan pengetikan secara umum serupa dengan LKTM, namun halaman minimal 10 halaman dan naskah maksimal 20 halaman.
Ad.1.b) LKTM Bidang Seni
Ad.2). PKM (Program Kreativitas Mahasiswa)
Berbeda dengan LKTM yang tidak boleh merupakan karya penelitian eksperimental, maka PKM bertujuan untuk supaya mahasiswa mencapai taraf pencerahan kreativitas dan inovasi berlandaskan penguasaan sains, teknologi serta keimanan yang baik dengan melakukan pengusulan proposal penelitian dan melakukan penelitian dengan dana tertentu yang dikeluarkan oleh DIKTI dengan persaingan seluruh perguruan tinggi PTN dan PTS se-Indonesia.
Terdapat 5 jenis kegiatan PKM yaitu:
a. PKM Penelitian (PKMP) yang merupakan kreativitas yang inovatif dalam menemukan hasil karya melalui penelitian pada bidang profesi masing-masing. Peserta PKMP diminta mengajukan program yang sesuai bidang ilmu masing-masing atau kombinasi dari beberapa bidang ilmu.
b. PKM Penerapan Teknologi (PKMT) yang merupakan kreativitas inovatif dalam menciptakan suatu karya teknologi (prototipe, model peralatan, proses) yang dibutuhkan oleh suatu kelompok masyarakat (kelompok petani, industtri kecil, dll). Peserta PKMT diminta mengajukan program sesuai dengan bidang ilmu masing-masing atau kombinasi dari beberapa bidang ilmu.
c. PKM Kewirausahaan (PKMK) yang merupakan kreativitas inovatif dalam membuka peluang usaha bersifat profit oriented. Peserta PKMK dapat bersala dari semua bidang ilmu.
d. PKM Pengabdian Masyarakat (PKMM) yang merupakan kreativitas inovatif dalam menjalankan program yang membantu masyarakat seperti penataan dan perbaikan lingkungan, pelatihan ketrampilan kelompok masyarakat, pengembangan kelembagaan masyarakat, penciptaan karya seni dan olahraga, dll. Peserta PKMM dapat berasal dari semua bidang ilmu.
e. PKM Penulisan Ilmiah (PKMI) yang merupakan kegiatan penulisan ilmiah dari suatu hasil karya mahasiswa dalam pendidikan (praktek kerja lapangan, KKN, magang, tugas akhir, dll). Peserta PKMI dapat berasal dari semua bidang ilmu, tetapi tulisan yang dibuat berasal dari hasil karya mahasiswa peserta yang telah selesai dilaksanakan.
Adapun kriteria jenis kegiatan PKM tersebut (Dirjen Akademik dan Kemahasiswaan, 2005c) dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Perbedaan kelima jenis kegiatan PKM menimbulkan konsekuensi teknis penulisan yang berbeda. PKM Penerapan Teknologi mewajibkan mahasiswa bertukar pikiran dengan pengusaha/pedagang kecil, koperasi atau kelompok produktif lain, karena PKMT merupakan solusi atas persoalan yang diprioritaskan mitra. PKM Pengabdian Masyarakat menuntut ditetapkannya masyarakat sasaran strategis dan persoalannya sebelum menyusun proposal. PKM Kewirausahaan umumnya didahului oleh survey pasar, karena relevansinya yang tinggi terhadap terbukanya peluang perolehan profit bagi mahasiswa.

Tabel 2: Kriteria Program Kreativitas Mahasiswa (Dirjen Akademik dan Kemahasiswaan 2005c)
No Kriteria PKMP PKMT PKMK PKMM PKMI
1 Inti kegiatan Karya kreatif, inovatif dlm penelitian Karya kreatif, inovatif dlm implementasi sains dan teknologi Karya kreatif, inovatif dlm membuka peluang usaha Karya kreatif, inovatif dlm membantu masyarakat Karya kreatif dlm penulisan artikel ilmiah
2 Materi kegiatan Semua bidang ilmu lintas bidang dianjurkan Semua bidang ilmu lintas bidang dianjurkan Semua bidang ilmu atau yang relevan Semua bidang ilmu atau yang relevan Karya PKM yang telah dilaksanakan
3 Strata pendidikan Diploma, S1 Diploma, S1 Diploma, S1 Diploma, S1 Diploma, S1
4 Jumlah anggota 3-5 orang 3-5 orang 3-5 orang 3-5 orang 3-5 orang
5 Dosen pendamping Maksimal 1 orang Maksimal 1 orang Maksimal 1 orang Maksimal 1 orang Maksimal 1 orang
6 Alokasi biaya (Rp) Maksimal 6.000.000,- Maksimal 6.000.000,- Maksimal 6.000.000,- Maksimal 6.000.000,- Maksimal 1.500.000,-
7 Laporan akhir Hasil kerja Hasil kerja Hasil kerja Hasil kerja Artikel
8 Luaran Artikel, paten Paten, model, piranti lunak, jasa Barang dan jasa komersial Jasa, desain, barang Publikasi di jurnal ilmiah

Sedangkan sistematika penulisan proposal/ usulan PKM (kecuali PKMI) juga mempunyai format tertentu (terlampir) sebagai berikut (untuk lengkapnya lihat pada Buku Pedoman Umum PKM):
a. Judul program
b. Latar belakang masalah
c. Perumusan masalah
d. Tujuan program
e. Luaran yang diharapkan
f. Kegunaan program
g. Tinjauan pustaka
h. Metode pelaksanaan program
i. Jadwal kegiatan program
j. Nama dan biodata ketua serta anggota
k. Nama dan biodata dosen pendamping
l. Biaya
m. Lampiran
Format penulisan PKMI agak berbeda dengan PKM yang lain (untuk lengkapnya lihat pada Dirjen Akademik dan Kemahasiswaan, 2005c) yaitu sebagai berikut :
1. Sistematika Penulisan
a. Cover dan Lembaran Pengesahan seperti usulan
b. Naskah diawali denga abstrak yang berupa: judul nama penulis, abstrak dan kata kunci (4-5 istilah). Jumlah kata dalam abstrak 250-300 kata.
c. Urutan sistematika tubuh penulisan:
i. Pendahuluan (latar belakang, tinjauan pustaka, dan tujuan)
ii. Metode Pendekatan
iii. Hasil dan pembahasan
iv. Kesimpulan dan saran
v. Daftar pustaka
d. Naskah berupa tulisan siap diterbitkan dalam bentuk camera-ready, dalam bentuk MS word atau PDF. Naskah tulisan minimal 6 halaman dan maksimal 10 halaman termasuk tabel, gambar, dan daftar pustaka. Gunakan Bahasa Indonesia yang baku, tidak menggunakan singkatan.
Ad.3). PPKM (Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa)
Presentasi Pemikiran Kritis Mahasiswa adalah hasil pemikiran kritis yang dilakukan oleh mahasiswa yang berupa penulisan ide dan gagasan kritis dalam menemukenali solusi terhadap kebijakan pemerintah dalam bentuk karya tulis.
Tujuan PPKM adalah menggali potensi wawasan keilmuan mahasiswa, sikap dan tanggung jawab pada berbagai bidang serta memberikan sumbangan nyata berupa suatu pemikiran kritis yang dikonsep dan memiliki argumentasi yang kuat dalam mencermati kebijakan yang akan atau sedang berlaku di Indonesia.
Bidang yang dipresentasikan adalah bidang POLKAM, perekonomian dan KESRA (kesejahteraan rakyat).
Adapun tema penulisan untuk PPKM tahun 2005 adalah Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Topik permasalahan untuk bidang yang bisa dipilih sebagai acuan penulisan berdasarkan bidangnya adalah:
1. Bidang POLKAM
a. Implikasi UU no. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah atau UU no. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
b. Kebijakan Pemerintah tentang masalah keamanan terhadap disintegrasi bangsa
c. Undang-undang Pemilu dan implikasinya terhadap pengembangan demokrasi bangsa
d. Pemilihan langsung presiden
2. Bidang Perekonomian
a. Membangun ekonomi kerakyatan melalui koperasi dan usaha kecil dan menengah
b. Koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia
c. Ketergantungan terhadap bantuan luar negeri
d. Kebijakan-kebijakan terhadap penjualan aset negara
e. Kebijakan perbankan nasional
3. Bidang KESRA
a. Pemanfaatan pengurangan subsidi BBM (bahan bakar minyak)
b. Penanggulangan korban bencana alam dan kerusuhan
c. UU no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
d. Gizi dan kesehatan masyarakat
e. Penanggulangan dan pencegahan serta rehabilitasi mengenai NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya) dan HIV/AIDS
f. Kebijakan subsidi terhadap petani
Adapun sistematika penulisan PPKM sebagai berikut (Dirjen Akademik dan Kemahasiswaan, 2005c):
1. Bagian awal:
a. Halaman judul
b. Lembar pengesahan
c. Kata pengantar
d. Daftar isi dan daftar lain (tabel, gambar, lampiran)
e. ringkasan (<2 halaman, satu spasi)
2. Bagian inti:
a. Pendahuluan:
1. Latar belakang yang memuat alasan memuat tema atau topik permasalahan
2. Uraian singkat identifikasi masalah atau perumusan masalah
3. Manfaat penulisan bagi pemerintah dan masyarakat luas
b. Landasan Teori:
1. Uraian yang menunjukkan landasan teori dan konsep-konsep yang relevan dengan masalah yang dikritisi
2. Uraian mengenai pendapat orang lain yang berkaitan denngan solusi masalah yang diajukan
3. Uraian mengenai implementasi kebijakan sejenis yang sudah berhasil diterapkan pada masa tertentu
c. Bagian Isi/Pembahasan:
1. Analisis permasalahan didasarkan pada data dan atau informasi serta telaah pustaka sebagai landasan teori untuk menghasilkan alternatif model pemecahan masalah atau gagasan/ide yang kreatif, idealis, logis dan dinamis serta realistis unutk implementasi.
2. Simpulan harus konsisten dengan analisis permasalahan dan menjawab tujuan
3. Rekomendasi berupa transfer gagasan, operasionalisasi solusi dan implementasinya di masyarakat.
3. Bagian akhir:
a. Daftar Pustaka
b. Daftar Riwayat Hidup
c. Lampiran bila diperlukan

PENUTUP
Telah dijelaskan cara penulisan karya ilmiah yang ternyata merupakan cara penulisan yang agak sedikit berbeda dengan cara penulisan karya non-ilmiah. Dengan memperhatikan alur berpikir ilmiah, kode etik penulisan ilmiah dan sistematika penulisan karya ilmiah, diharapkan suatu karya tulis ilmiah yang memenuhi kaidah keilmuan.
Sedangkan orisinilitas ide yang didapat dari mengolah berbagai sumber data yang diambil dari telaah pustaka yang cermat dengan menggunakan fasilitas media informasi terkini selain yang konvensional, diharapkan akan dihasilkan selain sendiri, juga bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan.
Menyajikan tulisan ilmiah yang baik dalam arti memenuhi standar tertentu yang diharuskan, komunikatif dan informatif; diperlukan penulisan draft yang berulang kali dan pentingnya dilakukan proof reading. Penting untuk diperhatikan ikuti setiap sistematika penulisan dan pengetikan pada setiap jenis lomba yang biasanya mempunyai pola spesifik, meskipun secara umum isinya sama.
Selamat berkarya.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaana. 2006. Pedoman Umum Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM). Jakarta. Dirjen DIKTI, Departemen Pendidikan Nasional.
Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaanb. 2005. Pedoman Umum Presentasi Pemikiran Mahasiswa (PPKM). Jakarta. Dirjen DIKTI, Departemen Pendidikan Nasional.
Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaanc. 2005. Pedoman Kegiatan Pengelolaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Jakarta. Dirjen DIKTI, Departemen Pendidikan Nasional.
Direktorat Pembinaan Akademik dan Kemahasiswaand. 2008. Pedoman Umum Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM). Jakarta. Dirjen DIKTI, Departemen Pendidikan Nasional.
International Committee of Medical Journal Editors. 2001. Uniform Requirement for Manuscripts Submitted to Biomedical Journals. http://www.icmj.org diakses 1-11-2002.
Jerz, DG. 2001. Writing a literature review in the health sciences and social work University of Toronto. http://www.utoronto.ca/hswriting/lit-review.htm diakses 1-7-2002.
Maher, JC. 1994. International Medical Communication in English. Jakarta, Binarupa Aksara.
Nasution, A.H. 1998. Pengantar Filsafat Sains. Bogor: Pustaka Litera Antarnusa.
Wahab, A. & Lestari, L.A. 1999. Menulis karya Ilmiah Surabaya, Airlangga University Press.
Wallace, W.L. 1994. Metode Logika Ilmu Social. Terjemahan oleh Laili Kadar. Jakarta: Bumi Aksara.
Widarso, W. 1992. Kiat Menulis dalam Bahasa Inggris. Edisi ke-9. Yogyakarta, Penerbit Kanisius.

LAMPIRAN 1
Petunjuk Teknis Penulisan dan Pengetikan
(Dirjen Akademik dan Kemahasiswaan, 2008d)
1. Penulisan Huruf
Naskah diketik 1,5 spasi dengan menggunakan jenis dan ukuran huruf "Times New Roman 12", kecuali untuk ringkasan diketik satu spasi.
2. Tata Letak
a. Batas pengetikan:
1) samping kiri 4 cm
2) samping kanan 3 cm
3) batas atas 4 cm
4) batas bawah 3 cm
b. Jarak pengetikan, Bab, Sub-bab dan perinciannya
1) Jarak pengetikan antara Bab dan Sub-bab 3 spasi, Sub-bab dan kalimat di bawahnya 1,5 spasi.
2) Judul Bab diketik di tengah-tengah dengan huruf besar dan dengan jarak 4 cm dari tepi atas tanpa digaris-bawahi.
3) Judul Sub-bab ditulis mulai dari sebelah kiri, huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf kapital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
4) Judul anak Sub bab ditulis mulai dari sebelah kiri dengan indensi 1 (satu) cm yang diberi garis bawah. Huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf besar (huruf kapital), kecuali kata-kata tugas, seperti yang, dari, dan.
5) Jika masih ada subjudul dalam tingkatan yang lebih rendah, ditulis seperti pada butir (3) di atas, lalu diikuti oleh kalimat berikutnya.
3. Pengetikan Kalimat
Alinea baru diketik sebaris dengan baris di atasnya dengan jarak 2 spasi. Pengetikan kutipan langsung yang lebih dari 3 baris diketik 1 spasi menjorok ke dalam dan semuanya tanpa diberi tanda petik.
4. Penomoran Halaman
a. Bagian pendahuluan yang meliputi halaman judul, nama/daftar anggota kelompok, kata pengantar dan daftar isi memakai angka romawi kecil dan diketik sebelah kanan bawah (i, ii dan seterusnya).
b. Bagian tubuh/pokok sampai dengan bagian penutup memakai angka arab dan diketik dengan jarak 3 cm dari tepi kanan dan 1,5 cm dari tepi atas (1,2,3 dan seterusnya)
c. Nomor halaman pertama dari tiap Bab tidak ditulis tetapi tetap diperhitungkan.
5. Kebahasaan
a. Huruf Miring (Italic)
Huruf miring digunakan untuk menulis beberapa hal sebagai berikut:
1) Kata dan ungkapan asing yang ejaannya bertahan dalam banyak bahasa
2) Tetapan dan pengubah yang tidak diketahui dalam matematika
3) Kata atau istilah yang diperkenalkan untuk diskusi khusus
4) Kata atau frase yang diberikan penekanan
5) Judul buku atau terbitan berkala yang disebutkan dalam tubuh tulisan
6) Nama ilmiah seperti genus, spesies, varietas dan forma makhluk
b. Huruf Kapital
1) Digunakan untuk huruf pertama pada awal kalimat
2) Setiap kata dalam judul, kecuali kata tugas yang tidak terletak pada posisi awal
3) Nama bangsa, bahasa, agama, orang, hari, bulan, tarikh, peristiwa sejarah, lembaga, jabatan, gelar dan pangkat yang diikuti nama orang atau tempat.
4) Nama-nama geografi, tetapi bukan nama geografi yang digunakan sebagai jenis (misal: badak sumatera).
5) Penulisan nama orang pada hukum, dalil, uji, teori dan metode.
c. Huruf Tebal
Huruf tebal digunakan untuk judul atau tajuk (heading).
6. Tata Bahasa
a. Fungsi tata bahasa digunakan dengan taat asas dan tegas, sehingga subyek dan predikat harus selalu ada.
b. Penggunaan ejaan dan istilah resmi.
c. Bahasa yang digunakan bersih dari unsur dialek daerah, variasi bahasa Indonesia, dan bahasa asing yang belum dianggap sebagai unsur bahasa Indonesia, kecuali untuk istilah bidang ilmu tertentu.
7. Tanda Baca
a. Tanda Titik (.)
Digunakan pada akhir kalimat, pada singkatan tertentu, sebagai pemisah bilangan ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah.
b. Tanda Koma (,)
Digunakan untuk memisahkan angka desimal, pemisah unsur-unsur dalam suatu deret, untuk memisahkan unsur-unsur sisteksis dalam kalimat.
c. Tanda Titik Koma (;)
Digunakan untuk memisahkan unsur-unsur sintaksis yang setara, atau dalam deret yang sudah mengandung tanda baca lain.
d. Tanda Titik Dua (:)
Digunakan untuk menandakan pengutipan yang panjang, angka perbandingan, memisahkan nomor jilid dan halaman daftar pustaka.
e. Tanda Tanya (?)
Digunakan pada akhir pertanyaan langsung, untuk menunjukkan keragu-raguan dalam suatu pernyataan.
f. Tanda Hubung (-)
Digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan menghubungkan dua kata yang sama.
g. Tanda Kurung ((...))
Digunakan mengapit tambahan keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
h. Tanda Petik ("...")
Digunakan untuk petikan atau kutipan pembicaraan langsung, istilah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
i. Tanda Garis Miring (/)
Digunakan untuk menggantikan tanda bagian atau menunjukkan bilangan pecahan.
8. Penulisan Tabel dan Gambar
a. Tabel
1) Judul tabel merupakan kalimat pernyataan secara ringkas yang berdiri sendiri dan dapat menerangkan arti tabel
2) Judul tabel diletakkan di atas tabel dengan diawali huruf kapital tanpa diakhiri dengan tanda titik
3) Setiap tabel yang ada harus dirujuk atau dibahas di dalam kalimat
4) Catatan kaki pada tabel merupakan simbol non numerik seperti *, † dan ‡.. petunjuk catatan kaki diletakkan pada bagian tabel yang memerlukan informasi tambahan tersebut.
b. Gambar
1) Judul gambar dapat berupa satu kalimat atau lebih.
2) Judul gambar diletakkan di bawah gambar dan diawali oleh huruf kapital serta diakhiri dengan tanda titik.
3) Setiap gambar biasanya mempunyai simbol. Untuk itu, setiap simbol harus diberikan keterangan. Ukuran simbol dan keterangannya harus proporsional dengan ukuran gambar dan dapat dibaca dengan jelas.
4) Setiap gambar yang terdapat dalam tulisan harus dirujuk di dalam teks.
9. Penyusunan Daftar Pustaka
a. Teladan umum untuk jurnal sebagai panduan yang biasanya mutakhir
Nama tahun. Nama pengarang. Tahun terbit. Judul artikel. Nama jurnal: nomor volume (nomor terbitan): halaman.
1) Satu Pengarang
Koske R.E. 1989. Scutellospora arenicola and Glomus trimurales: two new species in the Endogonaceae. Mycologia 81:927-933.
2) Dua Pengarang
Maginn, J.L. dan D.L Tuttle. 1990. Managing Invesment Portofolios: A Dynamic Process. 2nd ed. Gorham and Lamont Publisher. Boston.
3) Lebih dari Dua Pengarang
Bloomberg, D.J., S. Lemay, dan J.B. Hanna. 2002. Logistics. Pearson International. New Jersey.
4) Setiap Terbitan Dimulai dengan Halaman Baru
Eliel, E.L. 1976. Stereochemistry Science LeBel and van't Hoff: bagian Chemistry 49(3):8-13.
b. Organisasi sebagai pengarang
Badan Pusat Statistik (BPS). 2002. Statistik Potensi Desa Propinsi Banten. BPS. Jakarta.
c. Teladan umum untuk buku
Nama Pengarang. Tahun Terbit. Judul Buku. Tempat terbit; Nama Penerbit.
1) Buku Terjemahan
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van Der, Penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.
2) Buku dengan Editor
Gilman, A.G., T.W. Rall, dan A.S. Nies., P. Taylor, Editor. 1990 The Pharmacological Basis of Therapeutics. Pergamon. New York.
d. Prosiding
Nama pengarang. Tahun terbit. Judul artikel. Di dalam: Nama editor. Judul publikasi atau nama pertemuan ilmiah atau keduanya; tempat pertemuan, tanggal pertemuan. Tempat terbit: nama penerbit. Halaman artikel.
Meyer, B. Dan K. Herman. 1985. Formaldehyde Release from Pressed Wood Products. Di dalam: Turoski, Editor. Formaldehyde: Analyical Chemistry and Toxicology. Proceedings of the Symposium at the 187th Meeting on the American Chemical Society. St. Louis, 8-13 April 1984. Washington: American Chemical Societies. Halaman 101-116.
e. Skripsi/tesis/desertasi
Nama pengarang. Tahun terbit. Judul. Tempat institusi: Nama institusi yang menganugerahkan gelar.
f. Paten
Nama penemu paten; lembaga pemegang paten. Tanggal publikasi (permintaan) paten [tanggal bulan tahun]. Nama barang atau proses yang dipatenkan. Nomor paten.
g. Surat kabar
Nama pengarang. Tanggal bulan tahun terbit. Judul. Nama surat kabar; Nomor halaman (nomor kolom).
1) Tulisan/berita dalam surat kabar (dengan nama pengarang)
Pitunov, B. 13 Desember, 2002. Sekolah Unggulan ataukah Sekolah Pengunggulan? Majapahit Pos, hlm. 4 & 11.
2) Tulisan/berita dalam surat kabar (tanpa nama pengarang)
Jawa Pos. 22 April, 1995. Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri, Jawa Pos, hlm. 3.
h. Publikasi elektronik
Nama pengarang. Tahun penerbitan. Judul artikel. Nama jurnal [tipe media] volume (nomor):halaman. Ketersediaan. [Tanggal, bulan dan tahun akses]
Hsu, Y.H. dan K.Y. To. 2000. Cloning of a cDNA (Accession No. AF183891) Encoding Type II S-Adenosyl-L-Methionine Synthetase from Petunia Hybrida. Plant Phsiol. 122:1457.
Hamilton, J.D. 2000. Programming CGI 101. http://www.cgi.com/class/intro.html [18 Oktober 2000].

LAMPIRAN 2
PEROLEHAN MEDALI
PEKAN ILMIAH NASIONAL (PIMNAS) XX
DI UNIVERSITAS LAMPUNG, 17-22 JULI 2007
No. Perguruan Tinggi Perolehan Medali Jumlah
Emas Perak Perunggu
1 UGM 6 4 10
2 IPB 4 7 3 14
3 Unibraw 2 4 1 7
4 ITS Surabaya 2 1 1 4
5 UI 2 1 1 4
6 Univ. Neg. Yogya 1 1 2
7 Unpad 1 1
8 Udayana 1 1
9 Undip 1 1
10 Univ. Andalas 1 1
11 Poltek Jember 1 1
12 Unair 1 4 5
13 Unmuh Pontianak 1 1
14 Univ. YAI Jakarta 1 1
15 Univ. Neg. Semarang 1 1 2
16 Univ. Neg. Malang 2 2
17 STT Telkom 2 2
18 UNS Surakarta 1 1
19 Ubaya Surabaya 1 1
20 Univ. Sam Ratulangi 1 1
21 Univ. Hassanuddin 1 1
22 Unmuh Malang 1 1
23 Unmuh Purwokerto 1 1
24 Poltek Malang 1 1
Jumlah 22 22 22 66

TEKNIK PRESENTASI ILMIAH
(SCIENTIFIC PRESENTATION TECHNIQUE)
dr. Retty Ratnawati, MSc
Fakultas Kedokteran/
POKJA
Pengembangan Penelitian dan Penulisan Ilmiah Mahasiswa (P3IM)
Universitas Brawijaya

Agustus 2008

PENDAHULUAN
Presentasi ilmiah bisa dilakukan dengan cara presentasi oral dan presentasi poster. Prinsip presentasi karya ilmiah adalah suatu proses mengkomunikasikan karya ilmiah oleh pembicara kepada orang lain (audiens, pendengar/peserta). Harus disadari bahwa keberhasilan komunikasi ilmiah ini sangat ditentukan oleh beberapa faktor, baik dari dalam diri pembicara maupun dari lingkungan saat presentasi.
Oleh karenanya semua yang berhubungan dengan komunikasi menjadi penting pada saat presentasi ini. Mulai dari sumber berita (komunikan, pembicara), cara penyampaian komunikasi itu berlangsung (presentasi), dan penerima berita (audience). Faktor dari dalam pembicara termasuk pada perilaku dan penguasaan materi. Semakin dikuasai materi yang akan dikomunikasikan, maka semakin percaya diri si pembicara untuk presentasi. Kejujuran, kontak yang intensif, kesantunan, dan antusiasme pembicara dalam berkomunikasi selama presentasi merupakan hal yang utama. Lingkungan dengan siapa karya ilmiah itu akan dipresntasikan juga menentukan bagaimana komunikasi itu harus dilakukan, meskipun ada peraturan baku yang seharusnya diikuti.
Presentasi menjadi suatu hal yang alami ketika disadari bahwa pembicara sedang bercerita secara scientific kepada pendengar (audience) ataupun dewan juri. Alat peraga juga sangat menentukan keberhasilan penyampaian komunikasi ilmiah ini.
Makalah ini membahas bagaimana penyampaian karya ilmiah ini secara komunikatif yang seharusnya dilakukan oleh komunikas/pembicara dengan metode penyampaian melalui presentasi oral.

PREPARASI PRESENTASI ILMIAH
Hanya 1% dari info yang diterima dengan baik oleh penerima berita bila orang tidak menyukai isi berita tersebut, atau yang mendengarkan atau menyimak sambil lalu (Guyton & Hall, 2000). Orang hanya menerima 10% dari isi bila ia hanya mendengar melalui telinga, sedangkan kalau penerima berita melihat isi berita itu maka informasi yang diterima menjadi 20% (Alley, 2003). Tetapi apabila penerima berita itu mendengar dan juga melihat, maka isi berita yang diterimanya menjadi 50%.
Presentasi adalah suatu dialog (bukan monolog), sehingga harus dicari upaya supaya isi berita yang merupakan karya ilmiah ini dapat diterima audiens. Untuk itu harus dilakukan preparasi semaksimal mungkin, yang m,enyangkut hal berikut ini:
1. Identifikasi siapa audiens yang akan hadir (Anholt, 1994; Frame, 2002):
a. Siapa yang akan hadir dalam seminar nanti? Apakah orang yang berasal dari bidang ilmu yang sama, atau dari masyarakat awam, atau dewan juri dalam suatu lomba karya ilmiah?
b. Pemakalah yang buruk adalah mereka yang menyebabkan audiens menjadi bekerja dan berpikir keras untuk bisa mengerti apa yang dibicarakan oleh pemakalah.
c. Perhatikan baik-baik respon audiens terhadap apa yang dibicarakan itu, menarik atau tidak.
2. Susun dan rencanakan bahan/materi yang akan dipresentasikan (Anholt, 1994; Frame, 2002):
a. Ingatlah bahwa presentasi adalah proses komunikasi antara pembicara dan pendengar, bukan hanya sekedar tampil.
b. KISS (Keep It Simple, Stupid)
Buatlah presentasi itu sederhana pada slide /transparansi dan juga grafik/gambar yang ditampilkan, mudah dimengerti, seolah yang hadir mereka yang memang tidak mengerti.
c. Gunakan 80% dari waktu yang disediakan untuk presentasi. Persiapan pada setiap slide frasa kunci (poin penting dalam satu slide tersebut). Dalam satu jam presentasi jangan menggunakan lebih dari 30 slide.
d. Ringkaslah apa yang akan dibicarakan, bicarakan pad audiens dan ceritakan kembali apa yang telah dibicarakan.
e. Dalam 1 transparansi/slide gunakan tidak lebih dari 10 baris, denga nfont minimal 18 sampai dengan 36, gunakan huruf yang formal dan mudah dibaca.
f. Buatlah grafik yang tersusun rapi, concise )lugas, padat, ringkas, jelas). Jangan lupa berikan label. Hindarkan mencantumkan grafik yang rumit. Kalau rumus itu penting, jangan lupa memberikan arti setiap simbol yang dipakai.
g. Putuskan dan pilihlah bagian apa yang akan dipresentasikan. Tidak semua materi dalam karya tulis harus dipindahkan ke dalam slide.
h. Pilihlah warna yang sesuai dan kontras yang tepat. Setiap warna harus ada maknanya.
3. Kuasai materi presentasi (Alley, 2003; Anholt, 1994; Frame, 2002):
a. Pemilihan bahan yang akan dituliskan dalam transparansi yang tepat adalah penting. Tidak semua materi harus dituliskan, atau tidak semua data harus digambarkan atau dituliskan pada presentasi.
b. Materi yang akurat, lengkap, deskripsikan secara ilmiah, susunlah dengan rapi dan terencana. Semua ini akan memberikan gambaranbahwa pembicara memang mengerti benar sebagai sumber informasi yang sempurna.
c. Periksa secara kritis sebelum presentasi.
d. Jangan menimbulkan interpretasi pendengar yang skeptis dan kurang dipercaya atau ambigu.
4. Berlatih dan lakukan gladi bersih.
a. Lakukan latihan sebelum presentasi, untuk melakukan cross check tentang waktu presentasi, kesalahan tulis atau interpretasi.
b. Untuk presentasi yang prima adalah pembicara harus rileks. Apabila tidak bisa rileks dan kurang latihan maka terjadi tidak percaya diri atau nervous.
c. Bagi mereka yang tergolong nervous atau grogi, seharusnya menuliskan kalimat pembuka (ice breaker). Kemudian baca kalimat tersebut dengan gaya yang alami, kontrol suara sedemikian sehingga jangan berbicara terlalu cepat.
d. Ingatlah2 hal penting, yaitu hargailah dan hormatilah audiens, serta keinginan mereka untuk mendapatka informasi yang akan dikomunikasikan.

STRUKTUR PRESENTASI
(Alley, 2003; Anholt, 1994; Frame, 2002)
a. Topik Presentasi
b. Konteks dan Perspektif: Zooming In
i. Zooming in merupakan cara efektif dalam menyampaikan presentasi awal.
ii. Presentasi dimulai dengan mendeskripsikan secara umum, kemudian secara bertahap difokuskan kepada model penelitian/teori yang ingin dideskripsikan oleh pembicara.
iii. Keuntungan cara ini adalah menekankan (menggarisbawahi) apa yang telah dikeerjakan dan relevan dengan prinsip ilmiah (scientific), bukan hak yang tidak signifikan, atau kontribusi yang terisolasi/tidak jelas. Serta definisi operasional dalam batas intelektual keilmuan.
c. Bercerita
i. Presentasi adalah menyempaikan cerita keilmuan yang menarik dan sangat menggairahkan. Hal ini sangat berbeda nyata dengan ketika harus meringkas fakta-fakta saja.
ii. Pemikir atau ilmuwan yang 'clear' akan membagi isu presentasi dalam 2 hal yaitu bagian utama (sentral, pusat, main tracks) dan bagian penunjang (tambahan, perifer, side tracks). Pembicara akan dengan jelas menarik garis pada isu yang relevan dengan main tracks dan memilih sebagian dari side tracks.
iii. Penyampaian cerita keilmuan (scientific) ini harus mempunyai satu fokus, penyampaian satu pesan utama yang tunggal.
iv. Untuk membangun cerita ilmiah ini, sering diawali dengan pertanyaan sebagai ide dasar. kalau ingin menyampaikan hal lain untuk memperjelas presentasi, maka pembicara harus tahu dengan tepat kapan memulainya dan mengakhirinya, sehingga pembicaraan alur utama tetap secara 'crucial' dihargai.
d. Formulasi dan Argumentasi
i. Pembicara harus menunjukkan informasi secara terbuka.
ii. Pada presentasi harus jelas memberikan urutan data secara bertahap dan jelas, serta hubungannya antara satu dan lainnya.
iii. Ingatlah bahwa bidang ilmu yang disajikan oleh pembicara yang dianggap bisa; mempunyai jalur pintas yang familiar, ada jalur alternatif, dan jalur interkoneksi yang terjadi; itu semua bisa merupakan hal baru bagi pendengarnya.
iv. Komunikasi efektif adalah bila pembicara selalu menghindarkan hiperbol dan jargon.
v. Presentasi pembicara adalah merefleksikan pikiran pembicara (bila terlalu panjang dan lebar menunjukkan pembicara tidak terfokus).
vi. Harus dicermati untuk menganalisis bukti eksperiman dan spekulasi. Kemampuan ini merupakan proses intelektual, yang diekspresikan dan diformulasikan dalam kalimat demi kalimat presentasi.
vii. Menyadari adanya keterbatasan dan kekurangan dalam eksperimen atau teori atau eksplanasi dan mendefinisikannya dengan jelas, yang ditunjukkan dalam kesilpulan yang valid, merupakan penghargaan yang menunjukkan kredibilitas pembicara.
e. Kesimpulan: Zooming Out
i. Zooming out merupakan hal yang sangat berguna pada akhir presentasi.
ii. Kesimpulan harus direduksi menjadi pernyataan yang ringkas dan padat, mungkin berupa 2 atau 3 kalimat, dalam tampilan teks atau diagram yang sederhana, yang meupakan jawaban dari masalah atau tujuan.
iii. Hukum yang berlaku bagi ilmuwan adalah presentasi tepat waktu, jelas, dan mempunyai gaung pembicaraan yang tepat.

TIPE PRESENTASI
Terdapat 2 macam presentasi, yaitu secara oral (berbicara) dan menggunakan poster. Pada presentasi oral diperllukan alat bantu berupa transparansi atau slide.
1. Transparansi/slide (Anholt, 1994; Alley, 2003)
a. Tiga hal penting yang harus diperhatikan pada transparansi/slide adalah bersih, sederhana, dan jelas benang merahnya sesuai topik.
b. Sebaiknya merupakan pointer saja.
c. Data yang kompleks seharuanya dipecah menjadi beberapa slide yang sederhana.
d. Harus disadari bahwa audiens akan mengalami terintimidasi dengan rumus-rumus yang rumit.
e. Sebaiknya setiap slide ada headline, karena akan mengantar audiens dengan cepat mengikuti presentasi.
f. Dalam 1 slide sebaiknya terdiri tidak lebih dari 10 baris kalimat, dengan font 18-36
g. Gambar harus selalu memuat sumbu yang berlabel tetapi yang relevan. Bila gambar yang sama akan ditampilkan pada slide berikutnya, buatlah duplikasi gambar tersebut, jangan pernah kembali lagi pada slide sebelumnya.
h. Hindari untuk menampilkan : tabel, tulisan yang penuh dalam satu slide, gambar yang rumit dan kompleks, rumus/formula yang penuh dengan simbol yang rumit.
i. Warna yang dipilih adalah harus yang bagus kontrasnya, karena warna akan memberikan impresi presentasi, warna akan mempengaruhi kecepatan membaca audiens dan warna akan mempengaruhi emosi audiens.
j. Pemilihan style presentasi yang seragam bisa menimbulkan kebosanan sehingga menurunkan nilai dan koherensi presentasi.
k. Salah satu cara menghilangkan kebbosanan pada presentasi yang menggunakan Power Point, misalnya: buatlah animasi tidak terlalu banyak, namun baru dikeluarkan ketika sampai pada pembicaraan tersebut, sehingga terjadi secara berurutan.
2. Presentasi Poster (Alley, 2003; Frame, 2002)
Harus diperhatikan bahwa presentai poster adalah bertujuan untuk membuat kesempatan bertukar ide dan dialog, bukan hanya sekedar presentasi data. Oleh karenanya pada presentasi poster harus diperhatikan hal berikut:
a. Poster harus indah, bersih, disederhanakan supaya informatif.
b. Satu poster seharusnya mampu bercerita suatu topik cerita keilmuan.
i. Pilih topik yang ringkas dan informatif
ii. Deskripsikan secara kontekstual, tidak padat, dan tidak terlalu detail (bertele-tele).
iii. Pada pojok kiri atas, tuliskan secara ringkas dan jelas tentang pendahuluan mengapa studi ni penting.
iv. Pastikan bahwa presentasi ini diatur secara logis (secara ilmiah) dan berurutan (sequential).
v. Pada pojok kanan bawah, tuliskan kesimpulan pendek, padat, jelas, serta ringkasan (summary) pernyataan studi yang telah dilakukan.
vi. Pilih warna yang atraktif, kontras yang tepat, gunakan gambar yang mendukung hasil.
Yang penting pada presentasi poster ini adalah bukan berapa banyak jumlah orang yang mengunjungi poster, tetapi seberapa bagus kualitas interaksi pengunjung terhadap posterr, ini yang menunjukkan keberhasilan presentasi poster.

PERILAKU PEMBICARA SAAT PRESENTASI
Presentasi adalah komunikasi ilmiah, maka pada saat presentasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu kontrol suara pembicara, kontak mata, antara pembicara dan audiens, sikap dan gerak tangan pembicara selama presentasi, antusiasme pembicara, dan cara menjawab pertanyaan (Anholta, 1993; Frame, 2002; Guyton & Hall, 2000). Jadi yang paling penting, aturan yang harus dilakukan adalah berkomunikasilah dengan audiens, beritakan karya ilmiah Anda kepada audiens dengan antusiasme yang tinggi.
1. Kontrol suara dan kontak mata
• Karakteristik kontrol suara meliputi suara, volume suara, kecepatan, irama, dan intonasi.
• Tekanan pada kata yang penting harus diperhitungkan, karena audiens akan punya perkiraan kapan hal itu penting atau tidak.
• Artikulasi dan kontak mata adalah dua komponen paling penting pada presentasi oral dan saling terkait. Sediakan waktu yang cukup untuk mengartikulasikan kata dan kalimat secara jelas, sambil mempertahankan kontak mata dengan audiens.
• Nervous dan pembicaraan tergesa-gesa seringkali menyebabkan artikulasi suara yang tidak akurat. Gunakan waktu sebaik mungkin dan jangan berbicara lebih cepat dari kecepatan percakapan Anda. Sebaiknya tuliskan kata pembuka (ice breaker), pelajari, dan buatlah sealamiah mungkin.
• Berbicara secara perlahan adalah 'obat' bagi sebagian besar pembicara.
• Musuh terbesar presentasi ilmiah secara oral adalah monoton.
• Sedikit tenang lebih disukai daripada ramai.
• Kontak mata, dengan melihat langsung pada yang hadir adalah menunjukkan bahwa pembicara sedang 'berbicara' kepada mereka, tidak hanya sekedar presentasi 'di depan' audiens.
• Bagi pembicara 'asing' yang mempunyai masalah dengan bahasa, seharusnya:
o Melakukan latihan dan gladi bersih sesering mungkin dan sungguh-sungguh, yang sebaiknya ditemani native speaker atau mereka yang tidak punya masalah dengan bahasa tersebut.
o Buatlah slide sedemikian informatif, tertata rapi, runtut (well organized) sedemikian, sehingga seolah transparansi/ slide itu sudah mampu bercerita sendiri, kalau dalam percakapan Anda sukar dimengerti oleh audiens.
2. Sikap dan gerak tangan (gesture)
• Pada saat presentasi: berdiri tegak. Sebaiknya tidak berdiri statis, ubahlah posisi kadang-kadang di sekitar podium.
• Hindari gerakan-gerakan yang tidak diperlukan, misalnya: laser pointer yang mengarah ke mana-mana, gerakan tangan yang tidak perlu, dapat menurunkan nilai bahasa oral.
• Berbicara dengan tangan dimasukkan dalam saku adalah hal yang tidak menarik dan 'tidak rapi'.
3. Antusiasme
• Antusiasme yang asli, mempunyai nilai kesuksesan 95% bagi pembicara.
• Ingat, bila Anda tidak antusias dalam presentasi, apalagi pendengarnya.
• Berbicara dengan antusias dan presentasi adalah hal utama dan pertama yang harus dilakukan.
4. Menjawab pertanyaan
• Pembicara harus bisa mengontrol situasi presentasi saat menjawab pertanyaan:
o Dengarkan dengan seksama pertanyaan audiens.
o Berikan jawaban yang singkat, lugas, langsung pada permasalahan pertanyaan.
o Pada beberapa keadaan, mengulangi pertanyaan atau re-frasa (rephrase) bisa menguntungkan pembicara.
o Meskipun pembicara melakukan kontrol dan mempunyai otoritas dalam menjawab pertanyaan, tetapi selama menjawab pertanyaan sebaiknya tetap terbuka, obyektif, dan tidak 'defensif' (ngeyel, ngotot, seperti debat kusir), santun, penuh dengan apresiasi.

PENUTUP
• Presentasi ilmiah berarti pembicara sedang melakukan komunik ilmiah dengan audiens, merupakan dialog (bukan monolog), sehingga harus memperhatikan semua hal yang berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi tersebut.
• Presentasi oral yang sukses harus memperhatikan hal berikut ini.
o Tentukan tujuan presentasi
o Identifikasi audiens
o Susun rencana presentasi dengan runtut dan rapi (well organized), baik dalam hal materi maupun tampilan yang atraktif dan santun.
o Latihan presentasi sesering mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Alley, M. 2004. Presentation Visual in Scientific Writing. Virginia Tech. E-mail: (alley@vt.edu) kepada Retty Ratnawati (retty@fk.unibraw.ac.id). Diterima 24-1-2004.
Anholt, R.R.H. 1994. Dazzle 'em with Style: The Art of Oral Scientific Presentation. Ohio, W.H. Freeman Co. http://www.physisc.ohio-state.edu/~wilkin/writing/supp/dazzle.html. Diakses 28-1-2004.
Frame, P. 2002. How to Give a Good Scientific Presentation. The Nucleus. http://www.biowire.com.nucleus/nucleus_1_4jsp. Diakses 29-1-2004.
Guyton, A.C. & Hall, J.E. 2000. Textbook of Medical Physiology. 10th ed. New York, WB Saunders Company.


--
Shigenoi Haruki

No comments:

Post a Comment