Linkbucks

Saturday, January 15, 2011

Karsinoma Nasofaring

Definisi
Sebuah penyakit multifaktorial, insiden dan distribusi tergantung
beberapa faktor (genetik, lingkungan, diet, kebiasaan). Genetik 
keturunan Cina, kebiasaan  membakar dupa atau kayu, diet  nitrosamin
(ikan asin) dan defisiensi vitamin C. Sering di Cina Selatan, Taiwan
dan Indonesia.
Etiologi
Etiologi pasti tidak diketahui, beberapa faktor predisposisi:
1. Genetik. Keturunan Cina lebih rentan.
2. Viral. EBV (Epstein-Barr Virus) diasosiasikan dengan karsinoma
nasofaring. Marker spesifik digunakan untuk skrening.
3. Lingkungan. Polusi udara, merokok tembakau dan opium, nitrosamin
dari ikan asin, asap dupa dan kayu.
Patogenesis

Gambaran penyebaran karsinoma nasofaring dan klinis yang ditimbulkan.
Patologi
Tersering karsinoma sel skuamous dengan diferensiasinya (85%), limfoma
(10%) dan rhabdomyosarcoma, tumor kelenjar liur malignan atau chordoma
malignan (5%).
Dari histologinya, WHO mengelompokkan menjadi 3 tipe:
Present WHO terminology Former terminology
Type I (25%) Squamous cell carcinoma Squamous cell carcinoma
Type II (12%) Non-keratinising carcinoma
- Without lymphoid stroma
- With lymphoid stroma Transitional cell carcinoma
Intermediate cell carcinoma
Lymphoepithelial carCinoma (Regaud)
Type III (63%) Undifferentiated carcinoma
- Without lymphoid stroma
- With lymphoid stroma Anaplastic carcinoma
Clear cell carcinoma
Lymphoepithelial carcinoma (Schminke)
Spindle cell carcinoma

Secara makros, tumor muncul dalam 3 bentukan:
1. Proloferatif. Tumor polipoid mengisi nasofaring, menyebabkan
obstruktive nasal symptom
2. Ulseratif. Gejala umum epistaksis.
3. Infiltratif. Tumbuh menginfiltrasi submukosa.
Klinis
Umumnya ditemui pada dekade 5-7, tetapi dapat mengenai kelompok yang
lebih muda. Pria 3 kali lebih rentan daripada wanita. Simptomatologi
dibagi menjadi 4 kelompok utama:
1. Nasal. Obstruksi nasal, nasal discharge, denasal speech (rhinolalia
oclusa) dan epistaksis.
2. Otologic. Karena obstruksi tuba eustachius  tuli konduksi, OM
serous atau supurasi. Tinitus atau vertigo
3. Ophthalmoneurologi. Karena ekstensi tumor ke saraf kranial.
Diplopia dan juling  N VI. Opthalmoplegi  N III, IV, VI. Nyeri wajah
dan penurunan reflek kornea  N V dari foramen laserum. Eksopthalmus
dan buta  N II. Jugular foramen syndrome  N IX, X, XI. Ekstensi ke
kanalis hipoglosus  N XII. Horner's syndrome  rantai simpatis
servikal. Trotter's triad  tuli konduksi (oklusi tuba eustachius),
ipsilateral temporoparietal neuralgia (N V), palatal paralisis (N X).
4. Metastasis nodus servikal. Nodus limfe ditemukan di angulus
mandibula dan mastoid dan sepanjang asesori spinal di trigonum
posterior leher.
5. Metastasis jauh  tulang, paru, hepar.
a. Limfadenopati servikal  60-90%
b. Tuli
c. Obstruksi nasal
d. Epistaksis
e. Cranial nerva palsies, paling sering N VI
f. Nyeri kepala
g. Neyri telinga
h. Nyeri leher
i. Penurunan berat badan
Diagnosis
Pemeriksaan dengan cermin  penting.
Skull X-ray, tomogram atau CT-scan  erosi basis krani dan perluasan
tumor. MRI dengan gadolinium  ekstensi tumor intrakranial.
Biopsi  penting untuk histologi, jika tidak ada lesi nasofaring
dengan dugaan kuat keganasan dilakukan pendekatan transpalatal dan
strip mukosa dan submukosa dari fossa Rosenmuller.
Terapi
Iradiasi  pilihan terapi, 6000-7000 rad. Tumor rekuren atau residu
memerlukan radiasi eksternal kedua atau brakiterapi.
Radical neck dissection  untuk nodus persisten setelah tumor primer terkontrol.
Cryosurgery  untuk tumor rekuren.
Kemoterapi  pada stadium III dan IV meningkatkan penyembuhan dengan
kombinasi radioterapi. Dapat diberikan bersama atau setelah
radioterapi dengan Cisplatin, 5-FU.

--
Shigenoi Haruki

No comments:

Post a Comment